Senin, 19 Oktober 2026

Ketika Guru Tidak Peduli dengan Sekolahnya

Pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Gerbang sekolah masih setengah tertutup. Tidak ada guru piket berdiri menyambut. Hanya penjaga sekolah tua yang duduk melamun sambil menyeruput kopi. Anak-anak datang tergesa-gesa, sebagian masih berlarian di jalan karena takut terlambat, padahal di dalam kelas, guru yang seharusnya sudah berdiri di depan papan tulis itu belum juga terlihat.


Pukul 07.45, seorang guru datang dengan motor matik, helm tidak dilepas sampai di depan kelas. Tanpa salam, tanpa senyum, ia masuk, meletakkan tas, dan langsung duduk. "Buka halaman 42, kerjakan sampai selesai!" Perintah itu meluncur datar, dingin. Tidak ada penjelasan, tidak ada semangat. Setelah itu, kepalanya menunduk. Jari-jarinya sibuk menggeser layar ponsel. Di depan, 32 pasang mata murid saling pandang. Ada yang mengantuk, ada yang berbisik, ada yang menggambar di buku. Tidak ada yang menegur. Kelas itu hidup, tapi tidak bernyawa.

Di luar kelas, pemandangan lebih menyedihkan.

Lapangan upacara yang dulu setiap Senin pagi bersih dan rapi, kini ditumbuhi rumput liar setinggi mata kaki. Tiang bendera berkarat, talinya putus sudah dua bulan. Tidak ada yang mengganti. Di sudut lapangan, tumpukan kursi patah dibiarkan kehujanan, kayunya lapuk, besinya berkarat. Dinding sekolah yang dulu putih, kini penuh coretan, berlumut, catnya mengelupas seperti kulit yang sakit.

Di kamar mandi siswa, kran air mati. Bak kosong, berbau. Pintunya tidak bisa dikunci. Siswa perempuan harus bergantian menjaga di luar ketika temannya di dalam. Sudah lapor ke guru? Sudah. Jawabannya selalu sama: "Nanti ya, ibu sampaikan ke kepala sekolah." Kalimat itu diucapkan tiga bulan lalu, dan sampai hari ini, kran itu tetap mati.

Di ruang guru, AC menyala dingin, tapi tumpukan kertas tidak pernah diarsip. Papan pengumuman berdebu, jadwal pelajaran sobek di ujung. Ketika kepala sekolah mengajak kerja bakti hari Sabtu untuk membersihkan selokan yang mampet dan menyebabkan banjir di kelas 1, hanya dua guru yang datang. Yang lain beralasan. Ada yang ada acara keluarga, ada yang sakit, ada yang terang-terangan bilang, "Ngapain? Kan ada petugas kebersihan."

Padahal, semua orang tahu, petugas kebersihan hanya satu orang untuk sekolah seluas itu.

Ketidakpedulian itu menular seperti virus.

Awalnya hanya satu guru yang tidak peduli. Ia datang terlambat, pulang cepat. Ia tidak pernah membuat RPP. Ia menyalin nilai dari semester lalu. Teman di sebelahnya melihat. "Ah, dia saja tidak peduli, kenapa saya harus repot?" Akhirnya dua orang. Lalu tiga orang. Lama-lama menjadi budaya. Menjadi normal untuk tidak peduli.

Jika ada siswa berprestasi ingin ikut olimpiade, tidak ada guru yang mau membimbing sore hari. "Les saja di luar," kata gurunya. Jika ada siswa berkelahi sampai berdarah di belakang sekolah, guru hanya berkata, "Dasar anak nakal, panggil orang tuanya saja!" Tanpa pernah mencari tahu kenapa mereka berkelahi.

Jika ada bantuan buku baru dari pemerintah, buku itu hanya ditumpuk di gudang. Tidak dibuka. Tidak dibagikan. Sampai dimakan rayap.

Yang paling sunyi dari semua ini adalah hilangnya rasa bangga. Dulu, jika ada tamu datang, guru akan dengan bangga menunjukkan taman kecil yang ditanam bersama murid, menunjukkan piala-piala di lemari. Sekarang, jika ada tamu, guru malah malu. Mereka menunduk. Mereka tahu sekolah mereka kotor, berantakan, tertinggal. Tapi tidak ada yang mau menjadi orang pertama yang mengambil sapu.

Dan di sinilah lukanya terasa paling perih.

Lihatlah anak kecil di bangku paling belakang. Namanya Siti. Bajunya kebesaran, bekas kakaknya. Ia datang paling pagi, karena di rumahnya tidak ada meja belajar. Ia berharap di sekolah, ia bisa bertanya. Tadi malam ia tidak paham perkalian. Ia angkat tangan setinggi-tingginya. Tangannya gemetar. Guru itu tidak melihat. Matanya masih di layar ponsel. Siti menurunkan tangannya pelan-pelan. Ia merasa bodoh. Padahal bukan ia yang bodoh, hanya saja tidak ada yang mau mendengarkan.

Lihatlah anak laki-laki di kelas 6, namanya Andi. Ia ingin sekali sekolahnya menang lomba kebersihan. Ia pungut sampah satu per satu di halaman dengan tangan kosong. Ia buang ke tempat sampah yang sudah penuh dan meluber. Ia lari ke ruang guru, "Bu, tempat sampahnya penuh." Ibu guru itu menjawab tanpa menoleh, "Iya nanti." Andi berdiri lama di depan pintu. Ia menunggu "nanti" itu datang. "Nanti" itu tidak pernah datang sampai bel pulang.

Sore hari, ketika sekolah lain masih terdengar suara anak-anak les, pramuka, dan tawa di lapangan, sekolah ini sudah sunyi seperti kuburan. Gerbangnya dikunci asal-asalan. Lampu kelas tidak dimatikan. Papan tulis masih penuh tulisan yang tidak selesai diterangkan.

Di rumah, orang tua mulai bertanya, "Kenapa anak saya malas sekolah, Bu?" Guru menjawab dengan mudah, "Anaknya memang kurang motivasi di rumah." Begitu gampang menyalahkan. Begitu gampang cuci tangan. Padahal, anak itu malas karena ia tahu, bahkan gurunya sendiri tidak betah berlama-lama di sekolah itu.

Sekolah yang gurunya tidak peduli adalah sekolah yang membunuh harapan secara perlahan. Tidak dengan bentakan. Tidak dengan pukulan. Tapi dengan diam. Dengan tatapan kosong. Dengan jam kosong yang dibiarkan. Dengan potensi anak yang dibiarkan layu karena tidak pernah disiram.

Gedungnya masih berdiri. Atapnya masih ada. Papan namanya masih tergantung miring di depan, dengan huruf yang catnya sudah pudar: SD NEGERI... sisanya tidak terbaca lagi, tertutup lumut. Seolah nama itu sendiri malu untuk disebutkan.

Di dalamnya, tidak ada lagi detak jantung. Tidak ada lagi cahaya di mata guru ketika melihat muridnya akhirnya bisa membaca. Tidak ada lagi tepuk tangan bangga ketika seorang anak yang tadinya gagap, akhirnya berani maju ke depan.

Yang tersisa hanya jam dinding yang mati sejak dua semester lalu, yang jarumnya berhenti di angka 10. Seolah waktu di sekolah itu memang berhenti. Berhenti di titik ketika guru terakhir yang peduli, akhirnya lelah dan memutuskan untuk ikut tidak peduli juga.

Hanya ada bel yang masih berdering tepat waktu, memanggil anak-anak untuk datang dan pulang. Dan anak-anak itu pulang dengan tas berat berisi buku yang tidak pernah benar-benar mereka pahami. Mereka pulang dengan langkah gontai, dengan hati yang kosong, dengan pertanyaan yang tidak berani mereka ucapkan.

"Jika ibu dan bapak guru saja sudah tidak mencintai rumah ini, lalu untuk siapa kami harus mencintainya?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar