Jumat, 01 September 2023

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.3

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya diberi kesempatan untuk menuliskan refleksi diri terkait dengan pembelajaran modul 2.3 program guru penggerak angkatan 8 tentang Coaching dalam Supervisi Akademik. Kali ini saya menuliskan kegiatan refleksi dimulai dari modul 2.3.a.3 sampai post tes modul 2.

Rekan-rekan CGP Angkatan 8 yang dan pembaca yang berbahagia, menuliskan jurnal refleksi dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang calon guru penggerak.      Dengan melakukan refleksi ini diharapkan seorang calon guru penggerak senantiasa belajar menilai diri agar dapat meningkatkan kemampuan dirinya di masa depan. Adapun model yang saya gunakan dalam penulisan jurnal ini adalah model refleksi 4F (Fact, Feelings, Finding, Future)


1. Facts (Peristiwa)

Minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran yang saya ikuti yaitu diawali mulai dari 2.3.a.3 mulai dari diri, di mana saya membuat blog yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervisi di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep, modul 2.3.a.4.1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari sistem Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 dibahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching. Pada tahap ini CGP mempelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir. Pada tahap alur ini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching. Selain itu, pada modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching melakukan refleksi, coaching memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi. Selanjutnya di forum diskusi eksplorasi kami seluruh rekan CGP saling melakukan pemantapan pemahaman dengan berdiskusi. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan Pak Ali Mutadin melakukan sebuah percakapan coaching, saling berbagi pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP, dan dari hasil percakapan direkam dalam bentuk video dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS.

Urut sebelah kiri (Anang Khomsin, Hari Prasetiyanto dan Saya)

Proses pengambilan video kegiatan coaching

Kemudian pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, saya satu kelompok dengan rekan CGP yang kebetulan berada di 1 wilayah Kecamatan Pulokulon beranggotakan 3 orang (Pak Anang Khomsin, saya, dan Pak Hari Prasetiyanto), kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami melakukan secara bergiliran. Kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi. 

Hasil rekaman video kegiatan coaching supervisi akademik tersebut selanjutnya saya unggah di kanal YouTube sebagai produk tugas demonstrasi kontekstual modul 2.3. Adapun detail video dapat diakses pada tautan berikut.

Klik di sini

Selanjutnya pada hari Senin tanggal 4 September 2023 pukul 13.00 s.d 14.30 WIB seluruh CGP Angkatan 8 berada di alur Elaborasi Pemahaman bersama dengan Narasumber/Instruktur yaitu Bapak Pangarso Yuliatmoko (Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah) membahas tentang coaching dan supervisi akademik secara lebih dalam lagi. Dan kemudian saya membuat koneksi antar materi modul 2.3, dengan memberikan refleksi saya dengan apa yang saya dapati dan bagaimana dengan rencana serta langkah ke depannya yang akan saya lakukan. Pada tahap berikutnya saya membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervisi akademik yang dilakukan dengan teman sejawat, dan pada hari Rabu, 6 September 2023 saya dan seluruh rekan CGP melakukan test akhir modul 2.


 2. Feelings (Perasaan)

Saya sangat antusias dan bersemangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya begitu penasaran, bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian saya merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul 2. Dari hasil praktik tersebut saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.


3. Findings (Pembelajaran)

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana melaksanakan coaching dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat. Pada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul 2 yang pernah saya peroleh mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik. Di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat.


4. Future (Penerapan)

Sebagai seorang guru, saya tentunya sering menjumpai banyak permasalahan di tempat kerja yang terkait dengan potensi para murid dan rekan sejawat. Permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan mereka bisa saja tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Saya ke depannya akan selalu menerapkan praktik coaching dengan alur Tirta agar semakin menguasai dan terbiasa dalam menggunakan Coaching alur Tirta. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi murid maupun orang lain.

Sabtu, 19 Agustus 2023

Semarak Peringatan HUT Kemerdekaan Tahun 2023

Hari kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan hari libur nasional untuk memperingati proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Beragam kegiatan dilaksanakan, mulai dari upacara detik-detik proklamasi yang dilaksanakan pada pagi hari hingga upacara penurunan bendera yang diikuti oleh peserta didik SD, SMP, SMA dan seluruh instansi pemerintah pusat hingga daerah.



Kegiatan Upacara Penurunan Bendera

Di bulan Agustus 2023, Negara Kesatuan Republik Indonesia menginjak usia 78 tahun kemerdekaan. Tema untuk HUT ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2023 ialah "Terus Melaju untuk Indonesia Maju". Tema ini sekaligus menjadi slogan kemerdekaan ke-78.

Tema tersebut mencerminkan semangat bangsa Indonesia untuk terus melanjutkan perjuangan dan upaya pembangunan, serta bekerja sama dalam memanfaatkan kesempatan demi kemajuan Indonesia

Berbagai lombapun dilaksanakan untuk menyemarakkan acara penting tersebut. Mulai dari panjat pinang, tarik tambang, makan kerupuk, menangkap bebek, balap karung, gerak lagu dan sebagainya. Pemandangan serupa pun tampak di kampung kami, di Dusun Krajan RT.001 RW. 002 Desa Panunggalan Kec. Pulokulon Kab Grobogan.

Tangkap bebek

Makan Kerupuk

Balap Karung





Kamis, 17 Agustus 2023

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

Asalamualaikum wr.wb. 

Salam Guru Penggerak.

Bertemu kembali dengan saya, Devinta Agung Susanto, CGP Angkatan 8 dari Kabupaten Grobogan. Perkenankan saya menuliskan Jurnal Refleksi Dwi Mingguan pada pembelajaran Modul 2.2.

Jurnal refleksi yang saya susun ini menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa – Perasaan – Pembelajaran – Penerapan).

Peristiwa (Facts)

Pada modul 2.2 mengenai pembelajaran sosial emosional disajikan definisi pembelajaran sosial dan emosional, kompetensi sosial dan emosional, kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar penguatan 5 kompetensi sosial dan emosional serta implementasi pembelajaran sosial dan emosional di kelas dan sekolah.

Pembelajaran sosial emosional sangat lah penting untuk dipahami dan diterapkan karena proses pembelajaran murid tidak tergantung pada aspek intelegensi atau kemampuan kognitif saja tetapi juga dipengaruhi oleh aspek-aspek lain seperti aspek perkembangan sosial dan emosinoal.

PSE adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses ini memungkinkan murid dan guru di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat:

• Memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran Penuh)

• Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)

• Merasakan dan menunjukkan empati kepda orang lain ( Kesadaran sosial)

• Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (Ketrampilan berelasi)

• Membuat keputusan yang bertanggungjawab (pengambilan keputusan yang bertanggungjawab).

Perasaan (Feelings)

Proses pembelajaran yang saya dapatkan pada modul 2.2 membuat saya semakin bersemangat. Saya senang mendapatkan ilmu-ilmu baru yang tadinya Sebelum mempelajari modul kompetensi sosial emosional saya berpikir bahwa pembelajaran sosial dan emosional itu tidak terintegrasi dengan praktik pembelajaran di kelas sehingga pelaksanaannya rumit dan memakan waktu. Namun setelah mempelajari modul ini, ternyata pembelajaran sosial dan emosional sebetulnya sederhana dan dapat terintegrasi dalam pembelajaran.

Dengan mempelajari modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional ini, saya semakin memahami bahwa keterampilan sosial dan emosional muridpun perlu dilatih agar mereka siap dalam kehidupan ke depannya. Baik itu dalam kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Pembelajaran (Findings)

Setelah mempelajari modul 2.2 ini saya memahami bahwa tujuan pembelajaran sosial emosional adalah memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi, menetapkan dan mencapai tujuan positif, merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain, membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta membuat keputusan yang bertanggung jawab. PSE akan menjadi panduan guru untuk menanamkan dan membiasakan murid melakukan kebaikan. PSE mengarahkan murid untuk berkibenkaan global dimana murid mampu hidup berkopetensi dan berkompetisi dengan lingkungan.

Perubahan (Future)

Setelah mempelajari modul 2.2 ini saya ingin melakukan perubahan dalam penerapan pembelajaran di kelas dengan :

• menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam pembelajaran baik secara eksplisit terintegrasi dalam kurikulum akademik maupun iklim dan budaya sekolah.

• menerapkan PSE dengan harapan dapat melakukan perubahan positif pada manajemen diri saya dan murid

• menjadi teladan dan contoh baik bagi murid maupun bagi lingkungan belajar.

• kolaborasi dengan rekan sejawat dalam mewujudkan sekolah menjadi tempat yang ramah dan nyaman bagi murid. Menciptakan suasana yang nyaman juga untuk kesejahteraan psikologis seluruh warga sekolah (well-being)

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid

Assalamu'alaikum wr.wb.

Bertemu lagi dengan saya Devinta Agung Susanto, S.Pd.SD, M.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 8 dari SDN 4 Jambon Kec. Pulokulon Kab. Grobogan.

Pada jurnal dwi mingguan ini, saya menulis refleksi mengenai segala sesuatu yang saya alami selama mengikuti kegiatan pelatihan dalam program guru penggerak Angkatan 8. Harapan saya ke depan setelah bersama-sama belajar modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi, sebagai guru saya berharap memiliki pemahaman dan mampu mengupayakan dalam memenuhi kebutuhan belajar murid.

Dalam menulis jurnal refleksi kali ini, saya menggunakan refleksi kegiatan model “Segitiga Refleksi” yang akan saya jabarkan dalam poin-poin sebagai berikut :

A. Setelah pembelajaran minggu ini saya akhirnya memahami bahwa:

1. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid yang mempertimbangkan 3 aspek dalam memetakan kebutuhan murid, yaitu : kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar murid.

2. Ada tiga strategi pembelajaran diferensiasi yang bisa kita lakukan berdasarkan tiga pemetaan kebutuhan murid di atas. Setelah kita mengidentifikasi kebutuhan belajar murid, langkah berikutnya yaitu menentukan strategi diferensiasi yang ingin kita lakukan. Antara lain :

a) Diferensiasi konten yaitu ragam materi yang akan diajarkan kepada siswa berdasarkan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa.

b) Diferensiasi proses yaitu skenario pembelajaran yang kita rancang supaya murid bisa memahami atau memaknai apa informasi atau materi yang dipelajari saat kita telah memetakan kebutuhan belajar murid tersebut.

Ada beberapa cara untuk menentukan diferensiasi proses, di antaranya :

• Melaksanakan kegiatan berjenjang

• Menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan

• Membuat agenda individu

• Memvariasikan durasi waktu pengerjaan tugas

• Mengembangkan kegiatan pembelajaran berdasarkan profil belajar siswa

• Menggunakan kelompok yang fleksibel sesuai dengan kesiapan, kemampuan, dan minat siswa.

c) Diferensiasi produk yang mengacu pada tagihan apa yang kita harapkan dari murid sebagai hasil dari proses belajarnya, bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, perekaman, diagram, dan sebagainya. Yang paling penting produk ini harus mencerminkan pemahaman murid dan berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Kita dapat melakukan diferensiasi produk dengan berbagai cara namun sama seperti jenis-jenis diferensiasi yang lainnya maka kembali lagi kita perlu mempertimbangkan kebutuhan belajar murid kita terlebih dahulu. Mendeferensiasi produk meliputi dua hal : yang pertama, memberikan tantangan dan keragaman atau variasi, yang kedua memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.

3. Lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi, yaitu :

   • Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan disambut dengan baik

   • Setiap orang di dalam kelas saling menghargai

   • Murid akan merasa aman secara psikis dan fisik.

   • Ada harapan dari pertumbuhan murid

   • Guru mengajar untuk mencapai kesuksesan murid

   • Ada keadilan dalam bentuk nyata

   • Guru dan siswa berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.

4. Pembelajaran berdiferensiasi bisa dilaksanakan jika terdapat komunikasi yang terencana dengan baik antara guru, orangtua, serta komite sekolah. Guru harus memperhatikan beberapa aspek dalam belajar dan pembelajaran.

5. Terdapat 3 jenis perspektif penilaian, yaitu :

  • Assessment for learning: Penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran, berfungsi sebagai penilaian formatif.

  • Assessment of learning: Penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. berfungsi sebagai penilaian sumatif

  • Assessment as learning: Penilaian sebagai proses belajar dan melibatkan murid-murid secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut.  Penilaian ini juga dapat berfungsi sebagai penilaian formatif.

6. Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, penilaian formatif memegang peranan yang sangat penting. Berikut ini adalah beberapa contoh strategi penilaian formatif, selain yang mungkin telah sering dilakukan guru dalam bentuk tes tertulis: tiket keluar,tiket masuk, berbagi 30 detik, nama dalam toples, refleksi, pojok pemahaman, strategi 5 jari.

B. Setelah pembelajaran minggu ini, akhirnya saya mampu untuk:

1. Memahami tentang makna konsep pembelajaran berdifrensiasi untuk bisa diterapkan di kelas dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar murid. Seperti yang sudah diterangkan di atas, bahwa Pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha penyesuaian proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu masing-masing murid.

2. Memetakan kebutuhan belajar berdasarkan kesiapan belajar murid yakni yang mempertimbangkan 3 aspek kesiapan belajarnya, yaitu : kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar murid. Sebelum menyajikan kegiatan pembelajaran, hal yang perlu dilakukan guru adalah memetakan kebutuhan belajar. Hal ini perlu dilakukan guru agar kegiatan belajar yang dilaksanakan mampu mengakomodir kebutuhan belajar individu masing-masing murid, yaitu berdasarkan kesiapan, minat, serta profil belajarnya.

C. Perasaan saya setelah pembelajaran minggu ini adalah :

Merasa sangat senang dan bersemangat karena memperoleh materi baru, pemahaman baru yang memberikan inspirasi kepada saya untuk melakukan pembelajaran yang lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan murid yaitu dengan pembelajaran berdiferensiasi.

Selama ini, saya sebenarnya sudah menjalankan pembelajaran berdiferensiasi tapi masih belum optimal karena belum mengetahui ilmu dan cara yang benar dalam mengaplikasikanya.

Saya belum sepenuhnya mampu mengakomodir kebutuhan belajar murid saya, sehingga setelah saya selesai menjelaskan materi pelajaran dan kemudian saya memberi tugas untuk mengukur kemampuan mereka, ternyata masih ada murid yang bingung karena belum memahaminya sementara yang lain sudah bisa. Tadinya saya mengira mungkin tugas yang saya berikan menurutnya terlalu sulit.

Adanya modul ini sangat membantu saya untuk merefleksikan kegiatan yang selama ini saya lakukan dan membantu saya untuk bisa merencanakan kegiatan pembelajaran yang berdiferensiasi. Diskusi yang saya lakukan di forum komunikasi, diskusi di LMS dengan teman-teman, pengajar praktik, fasilitator maupun di ruang kolaborasi juga membantu saya untuk lebih memahami materi dalam modul 2.1 ini. Dari kegiatan tersebut saya memperoleh pemahaman baru tentang pembelajaran berdiferensiasi dan selanjutnya saya tuangkan pada tautan drive dan kanal youtube berikut.

Klik di sini

Klik di sini

https://youtu.be/qrS638YrB7E

D. Setelah melakukan pembelajaran minggu ini, target saya adalah:

Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang berdiferensiasi dan menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Sebelum RPP tersebut saya laksanakan di kelas, saya akan berkordinasi dengan sekolah terlebih dahulu dan meminta pendapat/saran dari rekan sejawat untuk belajar bersama dan memastikan RPP yang saya buat tersebut sudah sesuai dengan konsep pembelajaran berdiferensiasi atau belum. Saran dan kritik yang membangun dari rekan sejawat saya akan sangat membantu saya untuk melakukan kegiatan mengajar yang lebih baik lagi.

Itulah sedikit pemaparan saya mengenai jurnal refleksi dwimingguan modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid.

Semoga apa yang saya tulis ini bisa bermanfaat dan menginspirasi bagi pembaca dan para guru semuanya.

Salam guru penggerak!

Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan

Wassalamu'alaikum wr.wb

Selasa, 15 Agustus 2023

Aksi Nyata - Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

Asalamualaikum wr.wb. 

Salam Guru Penggerak.

Bertemu kembali dengan saya, Devinta Agung Susanto, CGP Angkatan 8 dari Kabupaten Grobogan. Perkenankan saya menyampaikan aksi nyata yang saya laksanakan pada Pendidikan guru penggerak saat ini.

Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional ini menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa – Perasaan – Pembelajaran – Penerapan).

Aksi Nyata dalam modul ini mensyaratkan Calon Guru Penggerak (CGP) untuk membagikan pemahaman tentang implementasi pembelajaran sosial emosional yang telah CGP lakukan selama ini. Aksi nyata ini dapat dikatakan sebagai kegiatan berbagi implementasi CGP kepada rekan sejawat atau komunitas, dengan merefleksikan pengalaman tersebut dengan menggunakan kerangka 4P (Peristiwa – Perasaan – Pembelajaran – Penerapan).

Facts (Peristiwa)

Setelah alur belajar ini sampai pada Aksi Nyata, diawali dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar (MA) dengan menggunakan Strategi Integrasi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial Emosional di kelas. Praktik baik dalam kegiatan pembelajaran di kelas diterapkan satu kelas terlebih dahulu dan secara bertahap pada kelas lainnya. Dalam aksi nyata sebelumnya CGP sudah melakukan praktik baik penerapan pembelajaran berdiferensiasi.

Ternyata pembelajaran ini sangat penting dan berguna, bukan hanya bagi guru dan murid, tetapi juga bagi komunitas sekolah. Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif bagi seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi sebenarnya memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah untuk memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

PSE berbasis kesadaran penuh (mindfulness) dan well-being sebagai kondisi sejahtera yang mencakup emosi dan suasana hati yang positif, misalnya, kepuasan, kebahagiaan, tidak adanya emosi negatif, misalnya, stress, depresi, kegelisahan. Well-being merupakan latihan kesadaran penuh dalam kondisi nyaman, sehat, dan bahagia. Dalam PSE melahirkan 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) yaitu; Kesadaran diri, Pengelolaan diri, Kesadaran sosial, Keterampilan relasi, dan Pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab.

Hal baik yang diperoleh dalam penerapan strategi Pembelajaran Sosial Emosional berbasis kesadaran penuh dan kondisi nyaman sehat dan bahagia (mindfulness and well being) di kelas sangat menarik dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Saya selalu berharap dalam menghadapi murid di kelas dalam bentuk ragam rupa, warna seragam, potensi, bakat, dan hobi.

Saya mencoba mempraktikkan latihan dengan berkesadaran penuh (mindfulness) yaitu STOP (Stop – Berhenti, Take a deep breath – Tarik napas dalam, Observe – Amati, Proceed – Lanjutkan). Teknik yang paling sederhana untuk berlatih membangun kesadaran penuh (mindfulness), meredakan ketegangan, mengembalikan dan membangun fokus murid.

Berikut tautan RPP (skenario pembelajaran) berdiferensiasi yang terintegrasi dengan Pembelajaran Sosial Emosional yang telah saya susun. 

https://drive.google.com/file/d/1-FYP09fOHW1dXwI8fOIoquwQ9YSbLZfB/view?usp=sharing

Feelings (Perasaan)

Saya merasakan ada kebiasaan yang berubah dalam penerapan kegiatan pembelajaran sosial dan emosional di kelas. Merubah kebiasaan dapat dilakukan secara bertahap. Pembelajaran sebelumnya hanya fokus pada target ketercapaian materi akademik saja dan terkadang mengesampingkan pemahaman emosi dan perasaan diri murid saat mengikuti pembelajaran. Situasi kelas yang belum terkelola seperti apa yang diharapkan dalam pembelajaran berdiferensiasi serta pembelajaran sosial emosional. Untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang ideal dan seimbang, memang memerlukan waktu dan kondisi kelas yang terkelola dan adanya kolaborasi yang baik oleh seluruh warga sekolah.

Untuk pra pembelajaran, guru dapat memberikan sosialisasi kepada semua murid tentang kesepakatan dan keyakinan kelas dalam penanaman dan penerapan budaya positif di kelas. Melibatkan murid dalam membuat kesepakatan dan memberi pendapat dalam menentukan keyakinan kelas.

Ketika pembelajaran berlangsung di guru dapat memberikan ice breaking untuk mencairkan suasana kelas dan mengelola kelas agar lebih menarik. Dengan PSE membuat saya lebih nyaman dan selalu berupaya untuk menerapkan PSE berkesadaran penuh dan well-being dengan harapan dan hasil yang menggembirakan.

Findings (Pembelajaran)

Penerapan PSE di kelas dapat mengendalikan emosi (kesadaran diri), saya banyak introspeksi diri memahami kekuatan dan kelemahan diri. Saya harus banyak belajar dan membangun kepercayaan diri, bagaimana mengelola rasa senang, kecewa, marah pada murid dengan perilaku yang berbeda-beda (manajemen diri). Saya memahami betul terdapat perbedaan di antara murid-murid, selalu mencoba berempati dan menghargai perbedaan itu (kesadaran sosial).

Pada suatu ketika saya menjumpai salah satu murid yang kerap datang terlambat saat masuk ke sekolah. Maka saya perlu melibatkan dan bekerjasama atau meminta bantuan guru kelas lain dalam mengatasi murid tersebut (keterampilan relasi). PSE yang sudah saya terapkan pada murid di antaranya: kesadaran diri, manajemen diri. Kesadaran sosial dan keterampilan berelasi sebagai suatu kebiasaan di sekolah yang telah saya terapkan di antaranya: berdoa sebelum belajar, memberikan ucapan salam, disiplin tertib waktu, berdiskusi, saling memberi pendapat dan tanggapan, piket kebersihan kelas, pemilihan ketua panitia kegiatan sekolah, saling menghargai pendapat, tanggungjawab dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Future (Penerapan)

Penerapan PSE dengan teknik rutin, terintegrasi dalam mata pelajaran, dan Protokol. PSE Rutin dengan melakukan penerapan PSE yang terjadwal, misalnya kegiatan rutin yang dilakukan di sekolah seperti kegiatan berdoa sebelum dan setelah belajar, atau ketua kelas melapor kehadiran siswa di kelas.

PSE terintegrasi mata pelajaran dapat dilakukan di sela-sela penyampaian materi, misalnya dengan diskusi kasus atau diskusi penyelesaian masalah secara berkelompok, penguatan profil pelajar Pancasila dalam gaya hidup berkelanjutan dengan produk pengelolaan sampah di lingkungan sekolah menjadi produk yang berguna seperti tempat sampah, pupuk cair, perkakas alat tulis.

PSE Protokol menjadi kegiatan sekolah yang sudah menjadi sebuah tata tertib dan kebijakan sekolah dilakukan secara mandiri oleh peserta didik, misalnya protokol pembiasaan gerakan SASIMASAM (SAtu SIswa liMA SAMpah), protokol piket kelas dengan mengajak semua murid berkolaborasi melaksanakan piket agar dapat menumbuhkan budaya gotong royong dan menjaga kebersihan lingkungan kelas sekolah, protokol piket guru dalam membantu memberikan kelancaran dalam proses belajar mengajar, mendisiplinkan murid serta menciptakan kelancaran dalam mengawasi proses pendidikan di lingkungan sekolah.


Selasa, 25 Juli 2023

Asesmen Awal Pembelajaran

Salam dan Bahagia, Bapak Ibu Guru...

Kali ini kita akan belajar bersama tentang cara menyiapkan asesmen. Berikut ini disajikan video dengan topik asesmen diagnostik.

Klik di sini

Asesmen diagnosis adalah asesmen awal pembelajaran. Asesmen diagnosis adalah salah satu bentuk asesmen formatif yang bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan awal dan kebutuhan belajar murid. Hasilnya dapat digunakan guru sebagai rujukan dalam merencanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid. Video ini akan menjelaskan bagaimana tahapan penyusunan sebuah asesmen diagnostik, pelaksanaan, serta menindaklanjuti hasilnya. Dengan begitu, Ibu dan Bapak Guru dapat belajar untuk menerapkannya di kelas nanti.

Asesmen bukan sekedar memberi nilai bagi murid melainkan juga  proses pemerolehan informasi bagi guru. Informasi tersebut membantu guru merefleksikan praktik mengajar yang mereka lakukan agar pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif.

Sumber:

  1. Pusat Asesmen dan Pembelajaran. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. 2021. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  2. SK Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi No. 008/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah Pada Kurikulum Merdeka

Selasa, 18 Juli 2023

Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4 Budaya Positif

 Assalamu’alaikum wr.wb.

Pada jurnal dwi mingguan keempat ini, kembali saya akan merefleksikan apa yang telah saya pelajari dalam modul 1.4 dengan berpedoman pada model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greeanaway.


Facts (Peristiwa)

Pada dwi mingguan keempat, mulai tanggal 28 Juni s.d 20 Juli 2023 seluruh Calon Guru Penggerak Angkatan 8 mempelajari modul 1.4 dan mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan di LMS (Learning Management System) sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan yang akan dipandu oleh Pengajar Praktik, Fasilitator dan Instruktur. Seperti sebelumnya, kegiatan pelatihan ini mengikuti alur MERDEKA, yaitu Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata.

Kegiatan diawali dengan Mulai dari Diri dan Eksplorasi Konsep dengan moda Mandiri pada hari Senin tanggal 3 Juli 2023. Kegiatan eksplorasi konsep ini dilanjut pada tanggal 4 Juli 2023 dalam Forum Diskusi. Dalam eksplorasi konsep ini, banyak sekali pelajaran yang didapat, yaitu konsep-konsep mengenai disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas dan segitiga restitusi. Setiap CGP berdiskusi secara asinkronus dengan menjawab pertanyaan pada tiap materi modul 1.4 serta memberikan tanggapan terhadap jawaban rekan CGP.

Selanjutnya adalah kegiatan di alur Ruang Kolaborasi pada tanggal 6 Juli 2023. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah kasus yang akan dianalisis dalam kegiatan diskusi. 


Tiap-tiap kelompok berdiskusi untuk menganalisis kasus yang telah disediakan mengenai penerapan disiplin positif, untuk kemudian dipresentasikan pada kegiatan Video Conference di alur Ruang Kolaborasi pada hari Jumat, tanggal 7 Juli 2023.

Kegiatan berikutnya adalah Demonstrasi Kontekstual pada hari Senin-Selasa, tanggal 10-11 Juli 2023. Pada kegiatan Demonstrasi Kontekstual ini CGP berlatih menerapkan segitiga restitusi dengan mengangkat dua kasus yang terjadi dalam proses pembelajaran di sekolah. Ada tantangan tersendiri dalam mengerjakan tugas Demonstrasi Kontekstual kali ini, karena CGP diminta mempraktekkan langsung dengan peserta didik sambil direkam untuk kemudian diupload di LMS. Kegiatan penerapan segitiga restitusi saya laksanakan bertepatan dengan kegiatan pendampingan oleh pengajar praktik. Meski masih dalam suasana libur sekolah, alhamdulillah perekaman video dapat terlaksana karena kebetulan sekolah kami melaksanakan piket bersama dengan guru dan beberapa siswa.


Berikut merupakan dokumentasi contoh penerapan segitiga restitusi di sekolah.

Klik di sini

Selanjutnya adalah kegiatan Diskusi Virtual Elaborasi Pemahaman Modul 1.4 bersama Narasumber/Instruktur Ibu Khoirul Haniin (Cabang Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur Wilayah Malang) pada tanggal 13 Juli 2023, pukul 13.00 – 14.30 WIB. Setelah sesi elaborasi ini berakhir, bersama dengan rekan CGP lain, kami menuangkan refleksi kegiatan pada link berikut.

Klik di sini

Pada hari Sabtu, tanggal 15 Juli 2023 bersama dengan rekan-rekan CGP dan PP, kami mengikuti kegiatan Lokakarya 2 PGP angkatan 8 bertempat di SMA Negeri 1 Grobogan mulai pukul 07.30 WIB s.d selesai.


Selanjutnya CGP melaksanakan kegiatan Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata hingga tanggal 20 Juli 2023. 

Adapun kesimpulan dan refleksi pelaksanaan kegiatan Alur Koneksi Materi secara ringkas saya sajikan pada tautan berikut.

Klik di sini

Aksi nyata modul 1.4. yang saya lakukan berupa kegiatan diseminasi tentang implementasi dari konsep dasar budaya positif berupa perubahan paradigma pembelajaran, teori kontrol, teori motivasi (hukuman, penghargaan, konsekuensi, restitusi), disiplin positif, posisi kontrol guru, dan juga segitiga restitusi untuk dijadikan sebuah kekuatan yang digunakan untuk menumbuhkan murid yang memiliki Profil Pelajar Pancasila.  Berikut ini tautan dari kegiatan aksi nyata tersebut.

Klik di sini

Selanjutnya pada hari Senin, tanggal 17 Juli 2023 CGP melaksanakan Post Test paket modul 1 mulai pukul 09.00, selama 60 menit sejak tes diklik mulai dan ditutup pada pukul 23.59 WIB.

Feelings (Perasaan)

Selama kurang lebih dua minggu keempat saya mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ini, saya merasa semakin termotivasi untuk memperbaiki diri sesuai dengan nilai-nilai budaya positif di sekolah karena ternyata selama ini masih banyak kekurangan dalam menangani permasalahan yang dialami peserta didik.

Findings (Pembelajaran)

Setelah mempelajari modul 1.4 saya lebih banyak belajar untuk memahami konsep-konsep mengenai disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas dan segitiga restitusi. Semua harus dipelajari dan dipahami secara holistik agar benar-benar dapat merealisasikannya dengan baik.

Future (Penerapan)

Saya akan berusaha untuk mewujudkan budaya positif dengan mengimplementasikan konsep-konsep mengenai disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas dan segitiga restitusi. Dengan menerapkan hal ini, diharapkan ke depannya akan dapat membangun kerjasama dan kolaborasi dengan seluruh warga sekolah dan pihak terkait.

Demikian refleksi dwi mingguan keempat saya, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Salam dan bahagia Ibu dan Bapak Guru hebat.

Ayo kita tergerak, bergerak dan menggerakkan.

Salam Guru Penggerak.

Guru Bergerak, Indonesia Maju  

Wassalamu’alaikum wr.wb.